Para ilmuwan telah mencapai tonggak bersejarah dalam kosmologi dengan menyelesaikan peta 3D alam semesta terbesar dan terinci yang pernah dibuat. Dengan memanfaatkan Instrumen Spektroskopi Energi Gelap (DESI), para peneliti telah berhasil memetakan volume kosmos yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyediakan kumpulan data baru dalam jumlah besar yang dirancang untuk memecahkan salah satu misteri terbesar fisika: energi gelap.
Skala Penemuan
Proyek DESI telah melampaui tujuan awalnya, menyelesaikan pengamatan utamanya lebih cepat dari jadwal dan menghasilkan lebih banyak data daripada yang diperkirakan sebelumnya. Peta resolusi tinggi ini bukan sekadar pencapaian visual; ini adalah kekuatan statistik.
Survei ini telah mengkatalogkan:
– 47 juta galaksi dan quasar
– 20 juta bintang
Sebagai gambaran, DESI telah mengumpulkan data enam kali lebih banyak galaksi dan quasar dibandingkan gabungan semua pengukuran astronomi sebelumnya. Volume data yang sangat besar ini memungkinkan para ilmuwan untuk melakukan lebih dari sekedar observasi dan melakukan pengujian dengan presisi tinggi tentang bagaimana alam semesta berperilaku dalam skala besar.
Mengapa Energi Gelap Penting
Untuk memahami pentingnya peta ini, kita harus melihat komposisi alam semesta kita. Konsensus ilmiah saat ini menunjukkan bahwa sekitar 70% kosmos terbuat dari energi gelap —sebuah kekuatan misterius yang bertindak sebagai semacam “anti-gravitasi”, yang mendorong percepatan perluasan alam semesta.
Terlepas dari dominasinya, kita tidak benar-benar mengetahui apa itu energi gelap atau bagaimana perilakunya. Selama beberapa dekade, para ilmuwan berasumsi bahwa energi gelap adalah kekuatan yang konstan. Namun, kumpulan data besar yang disediakan oleh DESI menawarkan peluang untuk menguji kemungkinan yang lebih radikal: bahwa energi gelap mungkin berevolusi seiring waktu. Jika data menunjukkan bahwa kekuatan energi gelap berubah, hal ini akan memaksa penulisan ulang pemahaman kita tentang fisika dan nasib akhir alam semesta secara mendasar.
Upaya Global Mengatasi Hambatan
Proyek DESI adalah kolaborasi internasional yang luar biasa, melibatkan lebih dari 900 peneliti dari lebih dari 70 institusi di seluruh dunia. Dikelola oleh Lawrence Berkeley National Laboratory, proyek ini telah memperoleh kontribusi signifikan dari berbagai entitas global, termasuk peran utama yang dimainkan oleh para peneliti di The Ohio State University.
Misi ini bukannya tanpa rintangan. Pada tahun 2022, proyek ini menghadapi gangguan besar ketika kebakaran Contras memutus aliran listrik dan akses internet di observatorium selama beberapa bulan. Meskipun ada kendala logistik, tim menggunakan solusi teknis yang kreatif untuk menjaga kualitas data, memastikan survei tetap berjalan sesuai rencana.
Apa Selanjutnya?
Meskipun misi utama pemetaan wilayah sasaran telah selesai, pekerjaannya masih jauh dari selesai. Proyek ini memasuki transisi multi-tahap:
- Pemrosesan Data: Tim ini mulai memproses kumpulan data besar-besaran selama lima tahun, dengan hasil komprehensif pertama yang diperkirakan akan dipublikasikan pada 2027.
- Pengamatan yang Diperpanjang: DESI akan terus mengumpulkan data hingga 2028, memperluas pandangannya ke wilayah langit yang lebih menantang.
- Pemetaan yang Disempurnakan: Fase mendatang akan fokus pada struktur yang lebih kecil dan rumit, seperti galaksi katai dan aliran bintang, untuk lebih memahami bagaimana struktur kosmik terbentuk dan berevolusi.
“Jejak survei yang lebih besar akan sangat meningkatkan batasan kita pada parameter kosmologis dan meningkatkan program materi gelap kita,” kata Klaus Honscheid, ilmuwan utama operasi instrumen DESI.
Kesimpulan
Dengan memetakan puluhan juta objek kosmik, DESI telah memberikan komunitas ilmiah alat yang belum pernah ada sebelumnya untuk menyelidiki sifat energi gelap. Saat para peneliti mulai menganalisis kumpulan data yang sangat besar ini, kita mungkin berada di ambang perubahan paradigma dalam cara kita memahami perluasan dan nasib alam semesta kita.





























