Beyond the Horizon: Astronot Artemis II Akan Memecahkan Rekor Jarak

8

Awak misi Artemis II berada di ambang tonggak sejarah. Saat mereka melanjutkan perjalanan mengelilingi Bulan, astronot Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen siap menjadi manusia yang melakukan perjalanan terjauh dari Bumi dalam sejarah, bahkan melampaui awak misi Apollo 13 yang bernasib buruk.

Meskipun misi ini bukan merupakan upaya pendaratan, misi ini berfungsi sebagai “pencari jalan” penting bagi NASA, menguji batas ketahanan manusia, sistem pesawat ruang angkasa, dan ketahanan biologis di luar angkasa.

Perjalanan ke Hal yang Tidak Diketahui

Misi tersebut telah beralih dari menguji sistem pendukung kehidupan di orbit rendah Bumi menjadi memasuki “lingkup pengaruh bulan”, di mana gravitasi Bulan mengambil alih kendali.

Pencapaian penting untuk penerbangan lintas bulan mendatang meliputi:
Pengamatan Sisi Jauh: Saat kru mengelilingi Bulan, mereka akan menyaksikan sisi jauh bulan—wilayah yang belum pernah diamati oleh mata manusia. Berbeda dengan sisi dekat vulkanik yang biasa kita lihat, sisi jauhnya diperkirakan tampak lebih terang dan abu-abu karena tingginya kepadatan kawah tumbukan.
Pemadaman Radio: Sekitar pukul 18:44, Bulan akan menghalangi sinyal radio, sehingga awak kapal mengalami pemadaman komunikasi selama 41 menit. Ini adalah prosedur orbit standar, mengingatkan pada era Apollo, dan tidak perlu dikhawatirkan.
Jarak Maksimum: Para kru akan mencapai titik terjauh dari Bumi pada pukul 19:07. sebelum memulai putaran kembalinya.
Gerhana Matahari: Setelah terbang lintas, kru akan menyaksikan gerhana matahari selama 53 menit, memberikan kesempatan langka untuk mengamati korona matahari dan benda langit dari perspektif luar angkasa.

Mata Manusia sebagai Alat Ilmiah

Meskipun robot pengorbit telah memetakan Bulan secara ekstensif, NASA memanfaatkan kru Artemis II sebagai “ilmuwan lapangan”.

Para kru ditugaskan untuk mengambil fotografi resolusi tinggi dan mencatat detail-detail tertentu—seperti tekstur, warna, dan kondisi pencahayaan tertentu—yang mungkin terlewatkan oleh sensor. Perspektif manusia ini sangat penting untuk merencanakan lokasi pendaratan di masa depan. Dengan mengamati medan, aliran lava purba, dan pegunungan, para astronot memberikan “realitas fisik” pada data tersebut, membantu NASA memahami sejarah geologi permukaan bulan lebih dalam.

Sains Melampaui Bintang: Biologi Luar Angkasa

Salah satu komponen terpenting dari misi ini tidak terlihat dengan mata telanjang. Para kru membawa chip AVATAR (A Virtual Astronaut Tissue Analog Response) —yang pada dasarnya adalah “organ dalam sebuah chip”.

Perangkat seukuran ibu jari ini berisi sampel sumsum tulang para astronot. Karena gayaberat mikro dan paparan radiasi (di luar medan magnet pelindung bumi) dapat mengubah kepadatan DNA dan tulang, chip ini memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari:
Pembentukan sel darah: Bagaimana sumsum tulang berkembang di luar angkasa.
Integritas DNA: Perubahan telomer, yang terkait dengan proses penuaan.

“Ini adalah misi pencari jalan bagi NASA,” kata Lisa Carnell, direktur divisi ilmu biologi dan fisika NASA. “Ini benar-benar meningkatkan kekuatan kami dalam melakukan apa yang bisa kami lakukan.”

Logistik Kelangsungan Hidup: Makanan Luar Angkasa dan Semangat

Bahkan dalam eksplorasi ruang angkasa yang mutakhir, dasar-dasar kelangsungan hidup tetap penting. Pola makan kru adalah keseimbangan nutrisi, keamanan, dan psikologi yang dirancang dengan cermat.

Untuk mencegah remah-remah yang mengapung merusak barang elektronik sensitif, makanan diformulasikan dengan cermat. Menu untuk hari terbang mereka mencakup semuanya, mulai dari telur orak-arik dan salad mangga hingga daging sandung lamur, makaroni, dan keju. Selain kalori, ilmuwan pangan NASA menekankan bahwa makanan bersama sangat penting bagi semangat awak kapal.

Seperti yang dicatat oleh astronot Christina Koch, berbagi makanan di ruang hampa memberikan rasa “kebersamaan”, sehingga membuat misi berisiko tinggi ini terasa, dalam beberapa hal, seperti “perjalanan berkemah”.


Kesimpulan:
Misi Artemis II lebih dari sekadar penerbangan jarak jauh; ini adalah laboratorium ilmiah yang canggih. Dengan menguji respons biologis terhadap ruang angkasa dan memanfaatkan pengamatan manusia untuk memetakan Bulan, NASA meletakkan dasar penting untuk era eksplorasi bulan berikutnya dan akhirnya kedatangan manusia di Bulan.