Tiga Lapisan Kesadaran: Bagaimana Evolusi Membangun Dunia Batin Kita

21

Para peneliti di Ruhr-Universität Bochum dan San Francisco State University mengusulkan bahwa kesadaran manusia bukanlah sebuah keadaan tunggal, melainkan berevolusi dalam tiga lapisan berbeda. Lapisan-lapisan ini – kegairahan dasar, kewaspadaan umum, dan kesadaran diri refleksif – masing-masing dikembangkan untuk memecahkan tantangan kelangsungan hidup tertentu, yang pada akhirnya membentuk cara kita memandang dunia dan tempat kita di dalamnya.

Lapisan Pertama: Naluri Bertahan Hidup

Bentuk kesadaran yang paling primitif adalah kegembiraan dasar. Ini bukan tentang pemikiran atau perasaan; ini adalah respons biologis yang mentah terhadap bahaya. Nyeri, dalam konteks ini, bukanlah suatu kerusakan, melainkan sistem alarm yang sangat efisien. Hal ini memaksa organisme untuk bereaksi terhadap ancaman – melarikan diri, membeku, atau berkelahi – untuk memastikan kelangsungan hidup dalam situasi hidup atau mati. Newen, “Secara evolusi, gairah dasar dikembangkan pertama kali, dengan fungsi dasar menempatkan tubuh dalam keadaan ALARM dalam situasi yang mengancam jiwa sehingga organisme dapat tetap hidup.”

Ini bukanlah sifat unik manusia. Bahkan organisme sederhana pun telah mengembangkan cara untuk bereaksi terhadap bahaya, dan rasa sakit berperan sebagai pendorong utama reaksi tersebut.

Lapisan Kedua: Perhatian Terpusat

Ketika otak menjadi lebih kompleks, kemampuan kita memproses informasi juga meningkat. Kewaspadaan umum muncul, memungkinkan kita menyaring gangguan dan fokus pada rangsangan penting. Bayangkan melihat asap ketika seseorang sedang berbicara; kamu langsung mengutamakan asap, mencari apinya.

Dr. Montemayor mencatat bahwa ini bukan hanya tentang sebab-akibat dasar (“asap berasal dari api”) tetapi juga tentang mempelajari korelasi yang kompleks – yang merupakan landasan penyelidikan ilmiah. Fokus selektif ini memungkinkan pembelajaran, pemecahan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Ini adalah langkah penting yang lebih dari sekadar bereaksi terhadap bahaya yang ada.

Lapisan Ketiga: Pikiran Sadar Diri

Bagian terakhir dari teka-teki ini adalah kesadaran diri refleksif. Di sinilah segala sesuatunya menjadi unik seperti manusia (dan ditemukan pada beberapa hewan tingkat lanjut lainnya). Artinya kita tidak hanya bisa melihat dunia tetapi juga merefleksikan diri kita sendiri di dalam dunia itu.

Kita dapat membentuk gambaran internal diri kita sendiri, merencanakan masa depan, dan berintegrasi dengan orang lain dalam struktur sosial yang kompleks. Kemampuan mengenali diri sendiri di cermin – keterampilan yang dikembangkan anak usia sekitar 18 bulan – adalah contoh sederhana. Kesadaran diri ini penting untuk kohesi sosial dan perilaku terkoordinasi.

“Kesadaran refleksif…memungkinkan kita untuk berintegrasi lebih baik ke dalam masyarakat dan berkoordinasi dengan orang lain,” Dr. Newen menekankan.

Model tiga tingkat ini menunjukkan bahwa kesadaran bukanlah sebuah pengalaman terpadu, namun sebuah hierarki yang dibangun selama jutaan tahun evolusi. Setiap lapisan masih berfungsi hingga saat ini, memengaruhi cara kita memandang rasa sakit, belajar dari dunia, dan memahami keberadaan kita sendiri.

Temuan para peneliti, yang diterbitkan dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B, memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana kesadaran berevolusi dan mengapa hal itu terwujud dalam cara yang kompleks.