Kekayaan Kuno: Bagaimana Orang Romawi Berinvestasi Sebelum Pasar Saham

4

Mengejar keamanan finansial bukanlah penemuan modern. Bahkan di zaman dahulu, orang memahami kekuatan investasi untuk menumbuhkan dan melindungi kekayaan. Sebagaimana diamati oleh penyair Romawi, Juvenal, pendapatan tahunan sebesar 20.000 sesterce—kira-kira setara dengan $300.000 hasil investasi modern—merupakan tujuan yang sangat diinginkan. Metode yang digunakan untuk mencapai hal tersebut, meskipun berbeda dengan instrumen keuangan saat ini, namun sangat canggih.

Logam Mulia: Penyimpan Nilai Asli

Sebelum pasar saham ada, cara utama berinvestasi adalah melalui aset berwujud, terutama emas dan perak. Logam-logam ini berfungsi sebagai lindung nilai terhadap devaluasi mata uang dan inflasi, sama seperti yang dilakukan sebagian investor saat ini. Orang kaya menyimpan emas batangan dalam bentuk batangan, batangan, atau dibuat menjadi perhiasan. Namun, hal ini bukannya tanpa risiko; pencurian selalu menjadi ancaman. Penyair Virgil menggambarkan perkebunan dengan “rumah-rumah tinggi” di mana “bakat perak tersembunyi sangat dalam,” sebuah bukti perlunya penyimpanan yang aman.

Bakat, satuan mata uang kuno terbesar, kira-kira berukuran 25 kilogram (55 pon) perak. Cicero menceritakan bagaimana wanita kaya seperti Clodia menarik emas dari lemari aman untuk meminjamkan uang, menukarnya dengan koin bila diperlukan.

Boom and Bust: Volatilitas Pasar Awal

Bahkan pasar komoditas kuno pun tidak kebal terhadap volatilitas. Ketika lapisan emas baru ditemukan di dekat Aquileia, Italia, arus masuk yang tiba-tiba membanjiri pasar, menyebabkan harga anjlok sepertiganya dalam waktu dua bulan. Solusinya? Monopolisasi dan regulasi, menunjukkan bentuk awal intervensi pasar. Logam dijual berdasarkan beratnya, dan perhiasan dapat dilebur menjadi emas batangan.

Pola pikir terhadap logam-logam ini adalah keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Seperti yang dikatakan Xenophon, “belum pernah ada orang yang memiliki begitu banyak perak sehingga tidak menginginkan lagi.” Surat wasiat dari masa itu sering kali mencantumkan warisan termasuk perak dan emas batangan, piring, atau batangan.

Diversifikasi: Melampaui Logam Mulia

Meskipun logam berfungsi sebagai penyimpan kekayaan, logam tidak menghasilkan pendapatan kecuali dijual. Portofolio yang terdiversifikasi mencakup komoditas pertanian—biji-bijian, minyak zaitun, dan anggur—yang memberikan aliran pendapatan yang stabil. Cato, seorang negarawan Romawi, menganjurkan investasi pada “barang-barang penting” yang “tahan terhadap pergerakan perekonomian yang tidak dapat diprediksi.”

Seni sebagai Investasi: Pasar Mewah

Seni bernilai tinggi juga berfungsi sebagai sarana investasi. Setelah menjarah Korintus pada tahun 146 SM, bangsa Romawi melelang karya seni kota yang terkenal itu. Attalus II, Raja Pergamon, membeli lukisan karya Aristeides dari Thebes dengan harga 100 talenta (2.500 kilogram atau 5.500 pon perak). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun demikian, sebuah mahakarya memiliki nilai yang sangat besar.

Risiko Politik dan Manipulasi Kekaisaran

Ketidakstabilan dan penjangkauan kekaisaran menimbulkan risiko tambahan. Selama perang saudara Romawi (32–30 SM), harga komoditas melonjak akibat kerusuhan. Kaisar seperti Caligula memberlakukan pajak sewenang-wenang, sementara Vespasianus secara terbuka memanipulasi pasar, membeli barang untuk dijual kembali dengan harga yang melambung. Praktik-praktik ini menyoroti bagaimana kekuatan politik dapat mengganggu perekonomian kuno sekalipun.

Berinvestasi pada zaman dahulu, seperti saat ini, bukannya tanpa bahaya. Mulai dari pencurian dan kehancuran pasar hingga campur tangan kekaisaran, akumulasi kekayaan memerlukan tinjauan ke masa depan dan tingkat keberuntungan. Namun prinsip dasarnya tetap tidak berubah: investasi strategis, baik pada logam, komoditas, atau seni, selalu menjadi jalan menuju stabilitas keuangan.