Nenek Moyang Manusia Purba Berjalan Tegak: Bukti Baru Mengonfirmasi Bipedalisme di Sahelanthropus tchadensis

15
Nenek Moyang Manusia Purba Berjalan Tegak: Bukti Baru Mengonfirmasi Bipedalisme di <em>Sahelanthropus tchadensis</em>”<br></br>
    frameborder=”0″<br></br>
    allow=”accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture”<br></br>
    allowfullscreen<br></br>
    loading=”lazy”><br></br>
  </iframe>
</div>
<p>Selama lebih dari dua dekade, para ilmuwan memperdebatkan apakah <em>Sahelanthropus tchadensis</em>, salah satu fosil hominin paling awal yang diketahui, berjalan tegak. Penelitian terbaru menunjukkan nenek moyang kuno ini <em>ternyata</em> berjalan dengan dua kaki, menyelesaikan perselisihan yang sudah berlangsung lama, meskipun beberapa peneliti masih tidak yakin. </p>
<h3>Fosil dan Kontroversi</h3>
<p>Sisa-sisa berusia 7 juta tahun yang ditemukan di Chad, termasuk tengkorak, gigi, dan pecahan tulang. Analisis awal menunjukkan postur tubuh yang tegak, namun penelitian selanjutnya mempertanyakan klaim ini, dengan beberapa orang berpendapat bahwa tulang paha (tulang paha) mirip dengan kera non-bipedal. Perdebatan berlangsung sengit, dengan tim lawan mempublikasikan interpretasi yang bertentangan atas bukti yang ada. </p>
<h3>Temuan Baru Mendukung Postur Tegak</h3>
<p>Sebuah tim yang dipimpin oleh Scott Williams di Universitas New York memeriksa kembali sisa-sisa fosil dan menemukan tiga ciri anatomi utama yang mendukung bipedalisme: </p>
<ul>
<li><strong>Lampiran Gluteus Maximus:</strong> Titik di mana otot ini menempel pada tulang paha menyerupai hominin modern, yang menunjukkan gaya berjalan yang serupa. </li>
<li><strong>Proporsi Tulang:</strong> Meskipun ukuran tulangnya mirip dengan simpanse, proporsinya lebih mirip dengan hominin yang berjalan tegak. </li>
<li><strong>Tuberkel Femoral:</strong> Benjolan kecil di tulang paha, yang penting untuk menstabilkan sendi pinggul saat berjalan, telah diidentifikasi, suatu ciri yang tidak terdapat pada kera non-bipedal. </li>
</ul>
<p>Temuan ini menunjukkan bahwa <em>Sahelanthropus</em> bukan hanya spesies peralihan, tetapi hominin awal yang sudah beradaptasi untuk bergerak tegak. </p>
<h3>Mengapa Ini Penting</h3>
<p>Perdebatan mengenai gerak <em>Sahelanthropus</em> lebih dari sekedar akademis. <strong>Hal ini menantang gagasan tentang perkembangan yang rapi dan linier dalam evolusi manusia.</strong> Jika spesies ini sudah berkaki dua 7 juta tahun yang lalu, ini berarti cara berjalan tegak berevolusi lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, mungkin sebagai respons terhadap perubahan lingkungan (seperti fragmentasi hutan) yang lebih menyukai individu yang dapat melihat dari balik rumput tinggi. </p>
<h3>Keraguan yang Masih Ada dan Penelitian di Masa Depan</h3>
<p>Tidak semua ilmuwan setuju. Beberapa peneliti berpendapat bahwa fosil tersebut masih mirip dengan kera besar dan bukti mengenai bipedalisme tidak dapat disimpulkan. John Hawks dari Universitas Wisconsin-Madison berpendapat bahwa garis keturunan hominin awal mungkin lebih “kabur” daripada yang diperkirakan sebelumnya, dengan spesies yang menunjukkan campuran sifat mirip kera dan manusia. </p>
<p><strong>Perdebatan kemungkinan akan terus berlanjut sampai penemuan fosil baru memberikan jawaban yang pasti.</strong> Namun, bukti saat ini dengan kuat menunjukkan bahwa <em>Sahelanthropus tchadensis</em> mewakili langkah penting dalam perjalanan panjang evolusi manusia.</p>
<p>        <script type=