Lampion Berbintik: Bagaimana Kehidupan Kota Meningkatkan Invasi

13

Lalat lentera tutul, spesies invasif yang menyebar dengan cepat di Amerika Serikat, tampaknya memperoleh keuntungan evolusioner yang signifikan dengan beradaptasi dengan lingkungan perkotaan – pertama di Tiongkok, dan sekarang di wilayah barunya di Amerika. Penelitian genomik baru-baru ini mengungkapkan bahwa kehidupan kota mungkin telah menjadikan serangga ini memiliki ketahanan yang lebih besar terhadap pemicu stres seperti panas dan pestisida, sehingga mempercepat ekspansi mereka di seluruh AS bagian timur.

Efek Inkubator Evolusioner

Para peneliti di Universitas New York, yang dipimpin oleh ahli biologi Fallon (Fang) Meng, menemukan perbedaan genetik yang jelas antara populasi lalat lentera di daerah perkotaan dan pedesaan di Shanghai, Tiongkok. Meskipun jaraknya hanya 19 mil, populasi ini menunjukkan perbedaan genetik yang mencolok. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh terbatasnya jangkauan terbang serangga tersebut, karena mereka memerlukan makanan terus-menerus dari tanaman inang seperti pohon surga yang invasif.

Lalat lentera perkotaan telah mengembangkan toleransi yang lebih tinggi terhadap panas dan peningkatan kemampuan untuk memetabolisme racun, termasuk pestisida. Adaptasi ini membuat mereka lebih siap untuk berkembang di lingkungan yang tercemar dan menantang.

Ekspansi AS: Pola Berulang

Penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences ini menemukan bahwa populasi lalat lentera di AS memiliki adaptasi genetik yang sama seperti yang terjadi pada populasi lalat lentera di perkotaan di Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan evolusi yang sama – yang terjadi di kota-kota padat penduduk – juga mendorong keberhasilan kota-kota di Amerika Utara.

Para peneliti mengidentifikasi tiga peristiwa “hambatan” utama dalam sejarah lalat lentera baru-baru ini. Hal ini mencakup: pesatnya urbanisasi di Shanghai lebih dari 170 tahun yang lalu, kedatangan serangga ini di Korea Selatan pada tahun 2004, dan deteksi awal serangga ini di Pennsylvania pada tahun 2014. Masing-masing hambatan mewakili periode di mana sejumlah kecil populasi berkembang biak, membawa serta adaptasi yang sudah ada sebelumnya untuk kelangsungan hidup perkotaan.

Risiko Ekonomi dan Ekologis

Lampion tutul menimbulkan ancaman ekonomi yang signifikan. Sebuah studi pada tahun 2019 memperkirakan bahwa penyebaran yang tidak terkendali di Pennsylvania saja dapat menyebabkan kerugian sebesar $324 juta per tahun. Serangga melemahkan tanaman dengan menghisap getah, dan mereka mengeluarkan limbah manis yang mendorong pertumbuhan jamur jelaga. Hal ini bahkan berdampak pada produksi madu, karena lebah terkadang mencari makan dari limbah manis dibandingkan bunga, sehingga memberikan rasa berasap pada madu.

Kemampuan beradaptasi serangga ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuannya berpindah inang. Meskipun ia lebih menyukai pohon surga, ia dapat memakan tanaman anggur, hop, maple, dan pohon buah-buahan, yang berpotensi mengganggu pertanian dan kehutanan.

Implikasi terhadap Upaya Pengendalian

Menurut Zach Ladin, ahli ekologi di Universitas Delaware, data genetik baru ini sangat penting dalam memperlambat penyebaran lalat lentera. Memahami gen mana yang berkontribusi terhadap resistensi racun memungkinkan strategi pengendalian bahan kimia yang lebih bertarget, sehingga mengurangi risiko mendorong resistensi lebih lanjut.

“Dari perspektif pengendalian bahan kimia, sekarang kita memiliki beberapa gen untuk ditargetkan yang penting untuk memastikan kita tidak hanya mendorong resistensi terhadap bahan kimia tertentu,” kata Ladin.

Studi ini menggarisbawahi keterkaitan antara urbanisasi dan dinamika spesies invasif. Kedua kekuatan utama ini sering kali dipelajari secara terpisah, namun gabungan efeknya bisa sangat dahsyat. Kisah lalat lentera tutul merupakan pengingat bahwa memahami interaksi ini sangat penting untuk mengelola risiko ekologi di dunia yang berubah dengan cepat.