Memikirkan Kembali Waktu: Bagaimana Merasa Tidak Terburu-buru dan Lebih Terkendali

6

Kita sering merasa terjebak oleh waktu—baik berpacu melawannya atau terjebak dalam perjalanannya yang lambat. Namun, penelitian psikologis mengungkapkan bahwa persepsi kita terhadap waktu dapat diubah. Dengan mengubah cara kita berhubungan dengannya, kita bisa merasa lebih berkelimpahan, mengurangi tekanan, dan pada akhirnya, lebih puas.

Ini bukan tentang membengkokkan hukum fisika; ini tentang memahami bagaimana otak kita merasakan waktu dan menyesuaikannya. Psikolog Ian Taylor, penulis Time Hacks, menjelaskan bahwa waktu bukanlah batasan yang kaku, melainkan kerangka subjektif yang menghubungkan ingatan kita dengan harapan masa depan.

Bagaimana Otak Kita Membangun Waktu

Tidak ada satu pun “pusat waktu” di otak. Sebaliknya, berbagai proses bekerja sama untuk menciptakan kesadaran kita akan waktu. Jam internal ini tidak tetap; itu mempercepat atau memperlambat berdasarkan perhatian dan sumber daya mental.

Peluang utama: Persepsi kita terhadap waktu adalah interaksi kompleks antara pikiran, tubuh, dan emosi.

Akselerator Emosional

Emosi yang kuat secara dramatis mengubah pengalaman kita terhadap waktu. Kemarahan atau kesedihan dapat memperpanjang detik menjadi beberapa menit, sementara kegembiraan memampatkannya. Inilah sebabnya mengapa “waktu berlalu ketika Anda sedang bersenang-senang” bukan sekadar klise.

Intensitas gairah itu penting. Kegembiraan yang menenangkan dan rasa takut yang hebat sama-sama meningkatkan kesadaran, namun hal ini dapat memicu efek “gerakan lambat”—mekanisme bertahan hidup yang mempertajam fokus dalam keadaan darurat.

Pertimbangkan skenario yang hampir terjadi kecelakaan: otak dibanjiri adrenalin, memproses detail dengan sangat jelas, membuat detik-detik terasa seperti selamanya. Ini bukanlah keajaiban; otaklah yang memprioritaskan sumber daya untuk memaksimalkan peluang bertahan hidup.

Peran Motivasi: Pendekatan vs. Penghindaran

Selain emosi, motivasi kita juga membentuk persepsi waktu. Ketika kita secara aktif mengejar sesuatu yang kita inginkan (suatu keadaan “pendekatan”), waktu terasa semakin cepat. Sebaliknya, ketika mencoba menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan (keadaan “penghindaran”), waktu menjadi lambat.

Hal ini menjelaskan mengapa aktivitas yang diinginkan terasa lebih pendek dibandingkan kewajiban yang tidak diinginkan. Otak berfokus pada imbalan, memampatkan pengalaman.

Bisakah Anda Meretas Waktu?

Ya, sampai taraf tertentu. Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa melihat sesuatu yang menyenangkan membuat waktu berlalu lebih cepat, sementara melihat sesuatu yang mengganggu memperlambatnya.

Penerapan praktis: Agar waktu terasa lebih cepat, isi hari Anda dengan aktivitas yang benar-benar Anda nikmati. Untuk membuatnya terasa lebih berlimpah, fokuslah pada apa yang Anda hargai, bukan pada apa yang terpaksa Anda lakukan.

Ilusi Kesibukan

Penelitiannya jelas: seberapa sibuknya kita merasa belum tentu terkait dengan seberapa sibuknya kita sedang. Orang yang merasa kekurangan waktu tidak selalu kelebihan beban secara obyektif.

Kuncinya bukan hanya mengatur jadwal Anda tetapi memupuk hubungan positif dengan waktu itu sendiri. Jika Anda menghabiskan hari Anda untuk melakukan kewajiban daripada melakukan aktivitas yang bernilai, Anda akan merasa lelah dan kekurangan waktu, apa pun beban kerja Anda.

Kemauan dan Manajemen Waktu

Otak kita tidak memiliki persediaan energi yang tidak terbatas. Penggunaan kemauan yang berlebihan akan menghabiskannya, membuat tugas-tugas selanjutnya menjadi lebih sulit. Ilmu pengetahuan terbaru menunjukkan bahwa ini bukan tentang kehabisan “sumber daya” misterius, tetapi tentang upaya berulang-ulang yang membuat kita kurang mau memaksakan diri lagi.

Saran: Jadwalkan tugas-tugas yang menuntut ketika sumber daya kognitif Anda paling kuat (biasanya di pagi hari) dan sisakan aktivitas yang tidak terlalu membebani untuk nanti. Prioritaskan hal-hal yang Anda sukai, karena hal itu tidak menguras kemauan.

Kekuatan Hadiah Langsung

Motivasi tumbuh subur pada kepuasan instan. Insentif finansial di tempat kerja akan lebih efektif bila diberikan segera dibandingkan sebagai bonus tahunan. Hal yang sama berlaku untuk tujuan pribadi: fokus pada imbalan jangka pendek untuk mempertahankan momentum.

Paradoks “Waktu Mati”

Momen yang tidak terstruktur tidak serta merta disia-siakan. Masalahnya bukan pada waktu itu sendiri, tapi bagaimana kita mengisinya. Menggulir ponsel tanpa berpikir panjang sebenarnya meningkatkan kebosanan, sementara kesendirian dapat meningkatkan kreativitas dan kesejahteraan.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang lebih memilih menahan sengatan listrik daripada menghabiskan 15 menit sendirian dengan pikiran mereka—sebuah bukti ketidaknyamanan kita dalam melakukan introspeksi. Namun, menerima kesendirian dapat mengarah pada pertumbuhan pribadi dan kemandirian.

Hal yang paling penting adalah bahwa hubungan kita dengan waktu dibentuk oleh keadaan internal kita, bukan hanya kendala eksternal. Dengan memahami hal ini, kita dapat mengendalikan cara kita menikmati sumber daya yang paling berharga.