Selama beberapa dekade, perubahan iklim terasa abstrak bagi banyak orang. Di Vermont utara, tempat musim dingin pernah membekukan Danau Champlain, perubahannya tidak terjadi secara langsung. Foto-foto lama menunjukkan truk-truk melaju melintasi es – sebuah pemandangan yang kini memudar dalam sejarah. Danau tersebut membeku secara konsisten hingga akhir tahun 1940-an, namun dalam dekade terakhir, tahun-tahun pencairan telah melebihi jumlah tahun-tahun pembekuan. Bulan Februari ini menandai pembekuan pertama dalam tujuh tahun, namun perubahan ini terjadi secara bertahap sehingga sebagian besar tidak diperhatikan.
Otak manusia berjuang menghadapi perubahan bertahap. Suhu yang lebih hangat satu derajat berarti perairan terbuka, bukan es, namun perbedaan ini tidak terlalu mencolok dibandingkan skenario “beku” atau “tanpa beku”. Grace Liu, pakar pembelajaran mesin di Carnegie Mellon, menjelaskan bahwa orang bereaksi lebih kuat terhadap data biner – kategori definitif – dibandingkan tren berkelanjutan. Grafik kenaikan suhu mudah diabaikan; daftar tahun pembekuan vs. pencairan lebih berdampak.
Hal ini penting karena perhatian adalah langkah pertama menuju tindakan. Jika orang tidak memahami suatu masalah, mereka tidak akan menuntut solusi. Namun, meski kesadaran meningkat, hal itu tidak menjamin adanya perubahan. Penelitian menunjukkan bahwa bahkan paparan terhadap peristiwa cuaca ekstrem – angin topan, kekeringan, kebakaran hutan – jarang mengubah keyakinan mengenai perubahan iklim atau dukungan terhadap kebijakan pro-lingkungan.
Efek “Katak Mendidih”.
Para ilmuwan pernah percaya bahwa meningkatnya bencana akan memaksa masyarakat menghadapi perubahan iklim. Sebaliknya, kita menderita bias normalisasi : kecenderungan untuk menerima kondisi yang semakin tidak normal sebagai hal yang normal baru. Hal ini terkadang disebut efek “katak mendidih”, yaitu katak yang direndam dalam air yang memanas secara perlahan tidak menyadari bahayanya hingga terlambat. Demikian pula halnya dengan bumi yang memanas dengan cepat, namun masih banyak orang yang tidak menyadarinya.
Sebuah studi yang menganalisis lebih dari 2 miliar postingan media sosial menemukan bahwa kondisi mental masyarakat berubah dengan cepat. Suhu normal ditentukan oleh apa yang terjadi dua hingga delapan tahun yang lalu, yang berarti perubahan iklim yang cepat sekalipun dapat diserap ke dalam ingatan kolektif sebagai “sebagaimana keadaannya”.
Masalah Gradualisme
Masalahnya bukan hanya soal kecepatan; ini tentang bagaimana otak memproses informasi. Kita kikir kognitif, lebih memilih jalan pintas mental daripada analisis yang rumit. Terapis mencatat bahwa pemikiran biner – membagi segala sesuatu menjadi dua kategori – efisien tetapi tidak akurat. Hal ini membutuhkan lebih sedikit usaha dibandingkan penilaian bernuansa. Di masa lalu, jalan pintas ini merupakan mekanisme bertahan hidup, yang dengan cepat membedakan antara “aman” dan “berbahaya.” Saat ini, hal tersebut membutakan kita terhadap ancaman yang bergerak lambat seperti perubahan iklim.
Misalnya saja Kota New York: hujan salju, yang tadinya biasa terjadi, kini menjadi jarang terjadi. Kekeringan salju selama 701 hari berakhir dengan badai besar pada bulan Februari 2024, namun perubahan tersebut masih dapat dengan mudah diabaikan. Para ilmuwan memperingatkan bahwa Belahan Bumi Utara sedang mendekati “jurang hilangnya salju,” di mana kenaikan suhu sekecil apa pun akan memicu penurunan suhu yang tidak dapat diubah lagi. Namun, masih banyak orang yang memandang perubahan iklim sebagai hal yang jauh dan hanya bersifat teoritis.
Membingkai Perubahan Iklim Secara Efektif
Solusinya mungkin terletak pada menerima, bukan melawan, bias kognitif kita. Menampilkan data iklim sebagai pembedaan yang jelas – “beku” vs. “mencair”, “aman” vs. “banjir” – dapat menghilangkan sikap apatis. Ini bukan tentang menyederhanakan secara berlebihan, namun tentang membuat krisis terasa lebih cepat.
Antropolog Julian Sommerschuh mencatat bahwa di Jerman, masyarakat kewalahan dengan data abstrak dan merasa tidak berdaya untuk bertindak. Sebaliknya, para petani di Kenya, yang menghadapi ancaman nyata terhadap penghidupan mereka, fokus pada solusi nyata seperti penanaman pohon. Danau yang membeku adalah pengalaman yang mendalam, sedangkan grafik suhu global tidak.
Pada akhirnya, perubahan iklim bukan hanya masalah ilmiah; ini masalah psikologis. Jika kita ingin memobilisasi tindakan, kita harus menampilkan krisis dengan cara yang mengabaikan sikap apatis dan memicu sistem alarm alami di otak. Kuncinya adalah membuat yang abstrak terasa nyata, yang bertahap terasa mendesak, dan yang jauh terasa segera.





























